Alasan google belum rilis robot serupa chatgpt: problem reputasi

Penemuan teknologi chatgpt belakangan ramai disorot sang warganet pada media umum. Pasalnya, “robot” yg didirikan berdasarkan kecerdasan sintesis (ai) itu mampu memenuhi berbagai permintaan tugas, mulai dari membentuk esai, membantu pekerjaan murid, dan bahkan memecahkan kode pemrograman.

menyatakan robot itu kemungkinan bakal mengguncang usaha pencarian google. Meski demikian, para koordinator google belum usang ini dikabarkan telah membahas teknologi tersebut. Mereka optimistis bahwa chatgpt belum siap buat menggantikan mesin pencarian.

Ceo alphabet, sundar pichai, serta ketua ai google, jeff dean, dilaporkan menggelar pertemuan secara khusus buat membahas kehadiran chatgpt. Pada kesempatan tadi, seseorang karyawan bertanya apakah perusahaan tertinggal buat merilis platform serupa chatgpt.

Pichai serta dean dikabarkan menanggapi pertanyaan tersebut dengan mengatakan bahwa model bahasa ai google sebenarnya memiliki kemampuan sama dengan chatgpt. Tetapi, dari mereka, perusahaan mesti beranjak “lebih konservatif” karena risiko yg bisa mengancam reputasi perusahaan.

“kami benar-benar ingin mengeluarkan hal-hal ini menjadi produk nyata dan menjadi hal-hal yg lebih menonjol menampilkan contoh bahasa daripada di balik layar, di mana kami sudah menggunakannya hingga saat ini,” kata dean, seperti dilansir asal the verge, senin (19/12). “tapi, sangat penting kita menjalankan ini dengan sahih,” ujarnya.

Chatgpt dikembangkan oleh firma penelitian serta pengembangan openai yg berbasis pada amerika serikat (AS). Openai sendiri dibangun oleh sejumlah investor, termasuk sam altman, peter thiel, dan elon musk pada 2015. Tetapi, elon sudah mengundurkan diri berasal jabatan menjadi dewan openai pada 2018.

Di 2019 perusahaan itu menerima investasi asal microsoft dengan nilai us$1 miliar

Sistem ai google

Para eksekutif google berbicara teknologi pada dalam chatgpt sebenarnya masih belum matang buat diluncurkan pada pengguna. Pasalnya, terdapat problem seperti bias chatbot, toksisitas, dan kecenderungannya buat mengada-ada.

Di sisi lain, pichai mengaku google memiliki “poly” rencana buat fitur bahasa ai tahun depan.

“ini merupakan area kawasan kami harus berani dan berkewajiban sehingga kami wajib menyeimbangkannya,” ucapnya.

Google kabarnya telah mengembangkan sejumlah model bahasa besar (large language models/llms) berbasis ai yang mempunyai kemampuan setara menggunakan chatgpt mirip bert, mum, serta lamda, yg seluruhnya sudah digunakan buat menaikkan hasil pencarian namun, peningkatan itu masih terbatas pada membantu pengguna buat lebih tahu maksud mereka saat melakukan penelusuran.

Dalam masalah openai, mereka semula berhati-hati pada menyebarkan teknologi llms. Tetapi, belakangan perusahaan mengubah taktiknya menggunakan meluncurkan chatgpt, sekaligus membuka akses buat umum .

Meskipun llms mirip chatgpt menampilkan fleksibilitas dalam menghasilkan bahasa, terdapat jua masalah umumnya, demikian the verge. Teknologi itu berpotensi memperbesar bias sosial yg ditemukan dalam data pelatihan, serta acapkali merendahkan wanita serta orang kulit berwarna.

Bahkan, pengguna sudah menemukan chatgpt “berbohong” tentang aneka macam duduk perkara, mulai asal mengarang data historis serta biografis, hingga membenarkan klaim palsu.

Ceo openai, sam altman, pun mengakui bahwa chatgpt masih mempunyai keterbatasan. Dia menggarisbawahi soal kemungkinkan platform yg bisa membentuk kesalahan yang menyesatkan.

“menjadi kesalahan Jika mengandalkan (chatgpt) buat hal-hal penting,” ungkapnya.

Related Posts

Leave a Reply

Your email address will not be published.